JAWA POS –
Pertengkaran antara Valentino Rossi dan Marc Marquez di GP Malaysia, Minggu
(25/10), sukses membelah dunia menjadi dua. Dalam konflik yang berujung pada
insiden senggolan di tikungan 14 Sirkuit Sepang itu, sebagian mengutuki Rossi
karena “membalap dengan kaki”.
Sebagian lainnya
menyumpahi Marquez lantaran tidak sportif. Upaya banding Yamaha sudah gagal.
Rossi tetap harus menerima penalti tiga poin plus start paling belakang pada
seri penentuan di Valencia dua pekan lagi (8/11). Dalam situasi dia sedang
berebut gelar dengan Jorge Lorenzo, dengan selisih poin mereka tidak
lebar-lebar amat, segala hal bisa menjadi batu sandungan. Alhasil, keluarlah
ancaman kolokan. Rossi bilang akan memboikot seri pemungkas di Valencia. “Mungkin
aku bahkan tidak akan start (di Valencia). Aku harus memutuskannya,” ujarnya
dalam jumpa pers setelah balapan di GP Sepang sebagaimana dikutip
Motorsport.com. “Aku ulangi, aku menyesal dia (Marquez, Red) terjatuh karena
aku hanya ingin mengganggunya,” tegas pembalap 36 tahun itu.
Rasa kecewanya
terhadap sanksi penalti sudah ada di ubun-ubun. Dia merasa tidak menendang
Marquez hingga jatuh. Meski dia juga mengaku manuvernya disengaja untuk membuat
rivalnya itu melebar di tikungan agar bisa segera mengejar Lorenzo.
Rossi menyebut
dirinya adalah pembalap yang fair. Poin penalti pertama sepanjang karirnya
didapat di Misano karena kesalahan pada sesi kualifikasi. “(Dengan melakukan
kesalahan kecil) itu pun aku tidak mendapat keuntungan apapun dari Lorenzo,”
kata Rossi.
Saat itu, Lorenzo
tetap meraih pole position meski sempat terhadang dengan manuver Rossi. Tentu
ancaman boikot tersebut adalah cara Rossi untuk meningkatkan posisi tawarnya di
hadapan race direction. Dengan absennya Rossi di seri akhir, pertarungan gelar
juara tidak akan seru. Bahkan, balapan tidak perlu ada.
Rossi juga
menyatakan telah mendapat konfirmasi dari Manajer Pembalap Honda Emilio
Alzamora. Menurut Alzamora, tindakan Marquez tersebut merupakan balas dendam
atas insiden di GP Argentina. Saat itu, Rossi dianggap melakukan manuver
berbahaya yang mengakibatkan Marquez terjatuh dan gagal finis. “Alzamora
bilang, Marc menganggap akulah yang membuatnya kehilangan titel juara dunia.
Dia (Marquez) benar-benar pecundang,” katanya sengit.
Dalam jumpa pers
awal pekan lalu, Marquez membantah tuduhan tersebut. Dia menyatakan sudah
melupakan insiden di Argentina dan sama sekali hanya fokus menjuarai balapan di
sisa musim. “Karena itu, aku terkejut dengan komentar Valentino Kamis lalu,”
ujarnya.
Insiden di
Sepang, kata dia, nyata-nyata disebabkan Rossi kehilangan kontrol emosi
lantaran tak punya kecepatan yang cukup untuk mengejar Lorenzo. Sekali lagi,
apapun yang dikatakan dua pembalap beda generasi itu, palu sudah digedok. Rossi
harus menerima putusan race direction, betapa pun bencinya dia.
Lantas, dengan
kondisi sekarang, bagaimana peluang pembalap Italia tersebut untuk merebut gelar
juara ke-10 dua pekan lagi? Meski unggul tujuh poin atas Lorenzo, posisi Rossi
memang jadi sulit mengejar titel. “Penalti ini seperti mengamputasi kakiku,”
dia mengeluh. Jika Lorenzo finis pertama, setidaknya Rossi harus finis runner up.
Dengan mengepras selisih 5 poin, Rossi masih bisa unggul 2 poin. Jika hanya
finis ketiga, gelar juara dunianya pasti lepas dari tangannya. Andai Lorenzo
finis kedua, setidaknya Rossi mesti menyelesaikan balapan di urutan ketiga
dengan raihan 16 poin. Dengan posisi tersebut, Rossi unggul 3 poin.
Kemudian,
andai duo Honda asal Spanyol, Marquez dan Dani Pedrosa, berhasil finis 1-2 dan
Lorenzo finis ketiga, tugas Rossi lebih ringan. Hanya perlu finis keenam dengan
raihan 10 poin. Maka, juara dunia bisa diamankan dengan selisih kemenangan satu
angka. Problemnya, apakah Marquez dan Pedrosa bakal berbaik hati kepadanya?(cak/c19/na)

No comments:
Post a Comment