Iklan Radar Banjarmasin

Iklan Radar Banjarmasin

Tuesday, October 27, 2015

Rossi Ancam Boikot GP Valencia

JAWA POS – Pertengkaran antara Valentino Rossi dan Marc Marquez di GP Malaysia, Minggu (25/10), sukses membelah dunia menjadi dua. Dalam konflik yang berujung pada insiden senggolan di tikungan 14 Sirkuit Sepang itu, sebagian mengutuki Rossi karena “membalap dengan kaki”.
Sebagian lainnya menyumpahi Marquez lantaran tidak sportif. Upaya banding Yamaha sudah gagal. Rossi tetap harus menerima penalti tiga poin plus start paling belakang pada seri penentuan di Valencia dua pekan lagi (8/11). Dalam situasi dia sedang berebut gelar dengan Jorge Lorenzo, dengan selisih poin mereka tidak lebar-lebar amat, segala hal bisa menjadi batu sandungan. Alhasil, keluarlah ancaman kolokan. Rossi bilang akan memboikot seri pemungkas di Valencia. “Mungkin aku bahkan tidak akan start (di Valencia). Aku harus memutuskannya,” ujarnya dalam jumpa pers setelah balapan di GP Sepang sebagaimana dikutip Motorsport.com. “Aku ulangi, aku menyesal dia (Marquez, Red) terjatuh karena aku hanya ingin mengganggunya,” tegas pembalap 36 tahun itu.
Rasa kecewanya terhadap sanksi penalti sudah ada di ubun-ubun. Dia merasa tidak menendang Marquez hingga jatuh. Meski dia juga mengaku manuvernya disengaja untuk membuat rivalnya itu melebar di tikungan agar bisa segera mengejar Lorenzo.
Rossi menyebut dirinya adalah pembalap yang fair. Poin penalti pertama sepanjang karirnya didapat di Misano karena kesalahan pada sesi kualifikasi. “(Dengan melakukan kesalahan kecil) itu pun aku tidak mendapat keuntungan apapun dari Lorenzo,” kata Rossi.
Saat itu, Lorenzo tetap meraih pole position meski sempat terhadang dengan manuver Rossi. Tentu ancaman boikot tersebut adalah cara Rossi untuk meningkatkan posisi tawarnya di hadapan race direction. Dengan absennya Rossi di seri akhir, pertarungan gelar juara tidak akan seru. Bahkan, balapan tidak perlu ada.
Rossi juga menyatakan telah mendapat konfirmasi dari Manajer Pembalap Honda Emilio Alzamora. Menurut Alzamora, tindakan Marquez tersebut merupakan balas dendam atas insiden di GP Argentina. Saat itu, Rossi dianggap melakukan manuver berbahaya yang mengakibatkan Marquez terjatuh dan gagal finis. “Alzamora bilang, Marc menganggap akulah yang membuatnya kehilangan titel juara dunia. Dia (Marquez) benar-benar pecundang,” katanya sengit.
Dalam jumpa pers awal pekan lalu, Marquez membantah tuduhan tersebut. Dia menyatakan sudah melupakan insiden di Argentina dan sama sekali hanya fokus menjuarai balapan di sisa musim. “Karena itu, aku terkejut dengan komentar Valentino Kamis lalu,” ujarnya.
Insiden di Sepang, kata dia, nyata-nyata disebabkan Rossi kehilangan kontrol emosi lantaran tak punya kecepatan yang cukup untuk mengejar Lorenzo. Sekali lagi, apapun yang dikatakan dua pembalap beda generasi itu, palu sudah digedok. Rossi harus menerima putusan race direction, betapa pun bencinya dia.
Lantas, dengan kondisi sekarang, bagaimana peluang pembalap Italia tersebut untuk merebut gelar juara ke-10 dua pekan lagi? Meski unggul tujuh poin atas Lorenzo, posisi Rossi memang jadi sulit mengejar titel. “Penalti ini seperti mengamputasi kakiku,” dia mengeluh. Jika Lorenzo finis pertama, setidaknya Rossi harus finis runner up. Dengan mengepras selisih 5 poin, Rossi masih bisa unggul 2 poin. Jika hanya finis ketiga, gelar juara dunianya pasti lepas dari tangannya. Andai Lorenzo finis kedua, setidaknya Rossi mesti menyelesaikan balapan di urutan ketiga dengan raihan 16 poin. Dengan posisi tersebut, Rossi unggul 3 poin.
Kemudian, andai duo Honda asal Spanyol, Marquez dan Dani Pedrosa, berhasil finis 1-2 dan Lorenzo finis ketiga, tugas Rossi lebih ringan. Hanya perlu finis keenam dengan raihan 10 poin. Maka, juara dunia bisa diamankan dengan selisih kemenangan satu angka. Problemnya, apakah Marquez dan Pedrosa bakal berbaik hati kepadanya?(cak/c19/na)

No comments:

Post a Comment